Selamat Datang di Official Website BPR Buana Artha Lestari.        ● Cegah Corona Virus: pakai masker, rajin cuci tangan dengan air + sabun, jaga jarak, dan jaga kesehatan badan        ● Ajukan kredit secara online: lebih cepat dan mudah.       

Tantangan BPR Kian Berat

Selasa, 01 Oktober 2019 | artikel umum

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mengalami tekanan yang kuat dengan munculnya pesaing-pesaing baru. Bisnis perkreditan yang selama ini menjadi lahan BPR, kini ramai digarap banyak pemain. Pesaing pertama muncul dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan bank umum ikut menyalurkan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) minimal 20%. Karena sama-sama menyasar pengusaha UMKM, bank umum dengan segala kelebihannya berpotensi besar membajak nasabah BPR.

Pesaing kedua adalah hadirnya layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology atau fintech) yang berkembang sangat pesat. Fintech menawarkan kemudahan dan kecepatan proses serta jangkauan yang luas. Pertumbuhan fintech memang luar biasa. Sepanjang 2018, mereka berhasil menyalurkan pinjaman lebih dari Rp22,5 triliun, jauh meningkat dari 2017 yang sebesar Rp2,56 triliun. Dan di tahun 2019 ini target Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di angka Rp45,2 triliun. Untuk merealisasikannya, fintech gencar menawarkan pinjaman bagi UMKM yang selama ini menjadi fokus BPR.

Pesaing BPR berikutnya adalah dari lembaga keuangan mikro (LMK) dan koperasi simpan pinjam, yang menawarkan fleksibilitas dan kemudahan untuk menggaet nasabah. Persaingan juga muncul dalam bentuk produk pinjaman yang diinisiasi pemerintah, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang pada tahun 2019 ini ditargetkan mencapai Rp140 triliun. Program ini beririsan dengan pasar BPR. Pemerintah pun memberi perhatian khusus dengan hadirnya subsidi bunga KUR yang ditetapkan 7% efektif per tahun. Rendahnya suku bunga KUR jelas menjadi daya tarik nasabah yang selama ini loyal pada BPR.

Banyaknya pesaing membuat BPR harus bekerja lebih keras untuk menjaga usahanya tetap tumbuh. BPR harus pintar menjaga loyalitas nasabah, memperdalam penetrasi pasar, melakukan efisiensi, manajemen yang baik, mengembangkan teknologi informasi yang memadai, dan memperkuat permodalan.

Logo Otoritas Jasa Keuangan

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan keadaan BPR yang relatif stagnan. Hingga Juni 2019, total kredit yang disalurkan BPR sebesar Rp104.616 miliar, meningkat dari akhir 2018 yang mencapai Rp98.220 miliar. Dari total nilai itu, 25,58% merupakan kredit modal kerja, 23,36% kredit investasi, dan sisanya 23,10% merupakan kredit konsumsi. Dari sisi kualitas kredit, terlihat kecenderungan menurun di mana rasio kredit bermasalah (NPL) pada Juni 2019 mencapai 7,25%, naik dari angka 6,82% di akhir 2018 dan 6,15% di tahun 2017. Sedangkan untuk aset, terjadi kenaikan total aset BRI nasional meski jumlah BPR menyusut. Per Juni 2019 tercatat total aset senilai Rp139.512 miliar (1.581 BPR), naik dari Rp135.693 miliar di akhir 2018 (1.597 BPR).

Di tengah ketatnya persaingan, BPR Buana Artha Lestari tetap eksis dan mampu tumbuh dengan baik. Hal ini tak lepas dari kerja keras seluruh jajaran komisaris, direksi, manajemen, staf, dan karyawan BPR Buana Artha serta kepercayaan dari masyarakat yang menjadikan BPR Buana Artha sebagai mitra keuangannya. Raihan penghargaan Infobank BPR Awards berturut-turut sejak tahun 2016 adalah satu bukti kinerja keuangan yang cemerlang dari BPR Buana Artha. BPR Buana Artha bertekad untuk terus tumbuh dengan memberikan layanan terbaik bagi nasabah.